dok.akhbarona

BEKASI — Keadaan makhluk Allah yang paling perkasa, para malaikat, mereka penuh rasa takut saat turun wahyu. Hal ini disampaikan Pendakwah Ustadz Abu Yahya Badrusalam, lc dalam Kajian di Masjid Al-Azhar Summarecon Mal Bekasi pada Rabu (18/9/2024).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

حَتّٰٓى اِذَا فُزِّعَ عَنۡ قُلُوۡبِهِمۡ قَالُوۡا مَاذَا ۙ قَالَ رَبُّكُمۡ ؕ قَالُوا الۡحَـقَّ ۚ وَهُوَ الۡعَلِىُّ الۡكَبِيۡرُ‏

Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar. (QS. Saba ayat 23)

Diriwayatkan dalam sahih al-Bukhari, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda,

إذا قضى الله الأمر في السماء ضربت الملائكة بأجنحتها خضعانًا لقوله، كأنه سلسلة على صفوان ينفذهم ذلك: حَتَّى إِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ [سبأ: 23]، فيسمعها مسترق السمع -ومسترق السمع هكذا بعضه فوق بعض- وصفه سفيان ابن عيينة بكفه فحرفها وبدد بين أصابعه – فيسمع الكلمة فيلقيها إلى من تحته، ثم يلقيها الآخر إلى من تحته، حتى يلقيها على لسان الساحر أو الكاهن. فربما أدركه الشهاب قبل أن يلقيها، وربما ألقاها قبل أن يدركه، فيكذب معها مائة كذبة. فيقال: أليس قد قال لنا يوم كذا وكذا كذا وكذا؟ فيُصدّق بتلك الكلمة التي سمعت من السماء

“Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena patuh akan FirmanNya, seakan-akan firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu rata, hal itu memekakkan mereka (sehingga mereka jatuh pingsan karena ketakutan). Maka apabila telah dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka berkata, ‘Apakah yang difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, (Perkataan) yang benar. Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar’. Ketika itulah, (setan-setan) penyadap berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan penyadap berita itu seperti ini: sebagian mereka di atas sebagian yang lain -digambarkan Sufyan- dengan telapak tangannya, dengan direnggangkan dan dibuka jari-jemarinya maka ketika penyadap berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, disampaikanlah kepada yang di bawahnya, kemudian disampaikan lagi kepada yang ada di bawahnya dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi kadangkala setan penyadap berita itu terkena syihab (meteor) sebelum sempat menyampaikan kalimat (firman) tersebut, dan kadangkala sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab: lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal) mengatakan, ‘Bukankah dia telah memberitahu kita bahwa pada hari anu akan terjadi anu (dan itu terjadi benar),’ sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit.”

“Faedah dari hadits ini yang pertama, Hanya Allah Yang Berhak diibadahi, dan Malaikat Makhluk yang Paling kuat tunduk, sementara manusia adalah makhluk yang lemah,” kata Ustadz Abu Yahya.

Ustadz Abu Yahya melanjutkan, faedah lainnya dari hadits tersebut yakni, para dukun itu batil, walaupun terkadang mereka menyampaikan satu hal yang benar. Hal ini karena para dukun bekerja sama dengan jin, namun kebenarannya diikuti dengan banyak kebohongan lainnya.

Terkait faedah hadits ini, Ustadz Abu Yahya juga mengingatkan agar jangan sampai seorang muslim karena satu keburukan, melupakan ribuan kebaikan lainnya. Kemudian juga tidak hanya memandang satu kebaikan, dan melupakan ribuan keburukan.

An-Nawwas bin Sim’an radhiallahu anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihwasallam bersabda,

إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة – أو قال رعدة – شديدة خوفا من الله ؛ فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا، وخروا لله سجدا. فيكون أول من يرفع رأسه جبريل، فيكلمه الله من وحيه بما أراد. ثم يمر جبريل على الملائكة، كلما مر بسماء سأله ملائكتها: ماذا قال ربنا يا جبريل؟ فيقول جبريل قال الحق وهو العلي الكبير فيقولون كلهم مثل ما قال جبريل فينتهي جبريل بالوحي إلى حيث أمره الله.

“Apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak mewahyukan perintahNya maka Dia firmankan wahyu itu, dan langit-langit bergetar dengan keras karena takut kepada Allah. Lalu, apabila para malaikat penghuni langit mendengar firman tersebut, pingsanlah mereka dan bersimpuh sujud kepada Allah Azza wa Jalla Maka malaikat yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril, dan ketika itu Allah firmankan kepadanya apa yang Dia kehendaki dari wahyuNya. Kemudian Jibril melewati para malaikat, setiap dia melalui satu langit, malaikat penghuninya bertanya kepadanya, ‘Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kita, wahai Jibril?” Jibril menjawab, ‘Dia firmankan yang benar. Dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.’ Dan seluruh malaikat pun mengucapkan seperti yang diucapkan Jibril itu. Demikianlah sehingga Jibril menyampaikan wahyu tersebut sesuai yang telah diperintahkan Allah Azza wa Jalla kepadanya.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam as-sunnah, dan al-Baihaqi dalam al-asma wa ash-shifat)

“Faedah dari hadits ini bahwa Malaikat sebagai makhluk yang kuat mereka takut kepada Allah. Kemudian juga keutamaan malaikat Jibril, Malaikat yang paling utama dan paling mulia,” kata Ustadz Abu Yahya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *